Etnis/Suku Bangsa Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia


Ultah Yayasan Anand Ashram
Februari 2, 2010, 2:53 pm
Filed under: Etnis India Indoesia | Tag:

Peranan Etnis India Indonesia dalam upaya mempererat multikultural guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa melalui perayaan Ulang Tahun (Ultah) Yayasan Anand Ashram yang dilakukan setiap tanggal 14 bulan Januari.

Ultah ke-19 Yayasan Anand Ashram dengan tema “One Earth One Sky One Humandkind, Building Souls Connecting Human Hearts” berlangsung di Desa Gunung Gelis, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 14 Januari 2010.

Pendiri Yayasan Anand Ashram adalah tokoh Etnis India Indonesia bernama Anand Krishna kelahiran Solo Jawa Tengah. Sejak awal berdirinya pada tahun 1991 Yayasan Anand Ashram dengan visi “One Earth One Sky One Humankind”, telah bertekad menyebarkan pesan perdamaian, cinta dan keharmonisan antar umat manusia, tidak hanya ke seluruh penjuru Indonesia, namun juga ke seluruh penjuru dunia.

Perayaan itu mendapatkan perhatian dunia, hal itu ditandai kehadiaran perwakilan dari Amerika Serikat dan India, Belanda, Jepang dan berbagai profesi, agama, suku, dan bangsa Indonesia. Ratusan hadirin dihibur sekaligus diajak merenung melalui tarian, lagu, dan role play atau drama singkat yang mengusung isu-isu aktual seputar pemanasan global, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, dan konflik antar agama.

Ketua Yayasan Anand Ashram, Maya Safira Muchtar, bertekad ke depan Indonesia tak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki keindahan panorama alam dan budayanya, tetapi juga dikenal sebagai negara yang mampu menjadi pembawa obor perdamaian ke seluruh dunia. Salah satu wujud dari tekad tersebut, saat ini Yayasan Anand Ashram telah mengembangkan berbagai organisasi sayap untuk mendukung berbagai kegiatannya.

Dijelaskan, beberapa organisasi sayap Yayasan Anand Ashram tersebut antara lain National Integration Movement (NIM), Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Yayasan Pendidikan Anand Krishna, Indonesian Youth Revolution, California Bali Friendship Association, Islamic Movement for Non-Violence, One Earth School, Padepokan One Earth One Sky One Humankind, Anand Krishna Global Cooperation, Tibet Indonesia Friendship Association, Brazil Indonesia Friendship Association, dan ForADokSi-BIP (Forum Pengajar, Dokter, dan Psikologi bagi Ibu Pertiwi).

Direktur Program Asia Timur US Commission On International Religious Freedom, Scott Flipse mendukung apa yang telah dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram selama ini. Apa yang mereka perbuat merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan perdamaian dunia dan keharmonisan antar umat beragama.

Duta Besar dan Berkuasa Penuh India untuk Indonesia, H.E. Biren Nanda mengatakan dalam kebudayaan India dikenal pepatah bijak “Kita semua adalah satu keluarga”. Menurut hasil penelitian sains terbaru saat ini memang telah ditemukan bahwa secara genetik manusia berasal dari “orang tua” yang sama. Secara spiritual, sudah sejak lama diketahui, bahwa setiap manusia memang bersaudara; apa pun agama, suku, dan bangsanya. Karena itu perdamaian adalah pilihan yang rasional sekaligus spiritual bagi peradaban manusia saat ini. Sangat menghargai dan mendukung apa yang dikerjakan bapak Anand Krisna karena positif bagi keharmonisan masyarakat Indonesia yang beragam multietnik dan agama.

Dukungan senada, Saddiq Pablo, Sufi dari Puerto Rico, menyatakan kagum menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram selama 19 tahun ini. Namun, yang lebih mengagumkan adalah keceriaan dan kedamaian yang saya lihat pada wajah-wajah aktivis spiritual di Yayasan Anand Ashram. Mereka benar-benar dapat menjadi pembawa obor perdamaian dunia saat ini.



Etnis India Indonesia : Masjid Al Anshor Pekojan, Kecamatan Tambora , Jakarta Barat, Indonesia
Agustus 30, 2009, 12:03 am
Filed under: Etnis India Indoesia

Bangunan Masjid Al Anshor yang terletak di Rt.006/Rw.04 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Indonesia. Pada massa penjajahan Belanda, daerah itu bernama Kampoeng Toea Pekojan. Nama PE-KOJA-N adalah kampong tempat tinggal orang Kodja. Sebutan orang Kodja adalah orang India atau etnis India.

Bangunan Masjid Al Anshor yang disamping terdapat pemakaman kuno, bernilai sejarah berkaitan Etnis India Indonesia, karena bangunan Masjid Al Anshor diatas tanah wakaf dari Warga Negara India dengan bukti sertifikat nomor : M.166 tanggal 18-03-92 AIW/PPAIW : W3/011/c/4/1991 tanggal 8-5-1991. Diperkuat dengan pemasangan Papan Undang Undang Monumen oleh Pemerintah DKI Jakarta (Dinas Musium dan Sejarah) berbunyi : Perhatian : SK Gubernur No.cb.11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 (Lembaran Daerah no.60/1972). Gedung ini dilindungi Undang Undang Monumen ST BL 1931 no.238. Segala tindakan berupa pembongkaran, perubahan, pemindahan diatas bangunan ini hanya dapat dilakukan seizin Gubernur Kepala Daerah. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai Undang Undang yang berlaku.

Selain itu, berkaitan sejarah Bangunan Masjid Al Anshor , terdapat bangunan musholla tertua bernama Langgar Tinggi di dirikan pada tahun 1249 H (1829 M) yang terletak di Rt.02/Rw.01 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Indonesia.

Peninggalan Etnis India atas Bangunan Masjid Al Anshor beserta makam kuno tersebut dapat dijadikan tempat obyek wisata religius (keagamaan).

Haji Achmad Sukardi depan Pemakaman samping Masjid Al Anshor

Haji Achmad Sukardi depan Pemakaman samping Masjid Al Anshor

Tanah Wakaf Warga Negara India

Tanah Wakaf Warga Negara India

Ketua Masjid Al Anshor, Haji Asma Direja dan Tokoh Masyarakat, Haji Achmad Sukardi

Ketua Masjid Al Anshor, Haji Asma Direja dan Tokoh Masyarakat, Haji Achmad Sukardi

Papan Undang Undang Monumen oleh Pemerintah DKI Jakarta (Dinas Musium dan Sejarah)

Papan Undang Undang Monumen oleh Pemerintah DKI Jakarta (Dinas Musium dan Sejarah)



Muslim Etnis India Indonesia, sejarah masuknya Islam ke Indonesia dari India ?
Agustus 28, 2009, 4:29 pm
Filed under: Etnis India Indoesia

Sejauh ini, perbincangan mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia masih didominasi dua teori yang sudah klasik dan klise, serta disinyalir penulis buku ini mengandung penanaman ideologi otentisitas. Bias ideologi otentisitas itu kira-kira menyatakan, kalau Islam yang datang ke Nusantara bukan berasal dari tanah Arab atau Timur Tengah, maka nilai kesahihan dan ke-afdhal-annya akan dipertanyakan. Makanya, teori pertama tentang datangnya Islam di Nusantara menyatakan bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang yang berasal dari Arab/Timur Tengah. Teori ini dikenal sebagai teori Arab, dan dipegang oleh Crawfurd, Niemann, de Holander. Bahkan Fazlur Rahman juga mengikuti mazhab ini (Rahman: 1968). Kedua adalah teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Pelopor mazhab ini adalah Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan Schrieke (Drewes: 1985; Azra: 1999).

Muslim Etnis India Indonesia memiliki sejarah peninggalan tempat ibadah seperti pembangunan Masjid Raya Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, Musholla atau Langgar Tinngi yang didirikan pada tahun 11249 H (1829 M) dan Masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India. Menurut Sekretaris DPC NU Kota Singkawang, Bakri, Masjid Raya Kota Singakwang dibangun sekitar abad 12 oleh Muslim India.

Apakah peninggalan sejarah pembangunan masjid dan musholla atau Langgar tersebut dapat memperkuat bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India ?

Kepada yang mengetahui sejarah pembangunan masjid itu dengan sejarah perkembangan Muslim Etnis India Indonesia, dipersilahkan membagi pengetahuan ini yang mungkin dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Teriam kasih



Peninggalan muslim India di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Indonesia
Agustus 27, 2009, 10:39 am
Filed under: Etnis India Indoesia

Pekojan merupakan salah satu tempat bersejarah diJakarta. Daerah pekojan pada era kolonial Belanda dikenal sebagai kampung Arab. Namun kini, mayoritas penghuni Pekojan adalah keturunan Tionghoa.
Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) ini diwajibkan lebih dulu tinggal di sini. Baru dari Pekojan mereka menyebar ke berbagai kota dan daerah.

Di Pekojan, Belanda pernah mengenakan sistem passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto, tapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila bepergian ke luar wilayah. Sistem macam ini juga terjadi di Kampung Ampel, Surabaya, dan sejumlah perkampungan Arab lainnya di Nusantara.

Kampung Pekojan merupakan cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat); Jatipetamburan, Tanah Abang, dan Kwitang (Jakarta Pusat); Jatinegara dan Cawang (Jakarta Timur).

Sebelum ditetapkan sebagai kampung Arab, Pekojan merupakan tempat tinggal warga Koja (Muslim India). Sampai kini, masih terdapat Gang Koja –yang telah berganti nama jadi Jl Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India.

Tidak sampai satu kilometer dari tempat ini, masih di Kelurahan Pekojan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pertengahan abad ke-18. Warga Muslim India yang telah menyebar di Jakarta, setiap Lebaran shalat Id di masjid ini. Sambil bernostalgia mengenang para leluhurnya yang tinggal di kawasan ini. sumber : wikipedia

Para pembaca yang mengetahui sejarah perkembangan muslim India Pekojan ini, diharapkan dapat menambahkan melengkapi berita ini.
Terima kasih.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.